*Berkah Wesi Kuning Membawa Keadilan

Selain menjalankan bisnis jual beli karung dan sak di Mojokerto, saya juga sering melakoni jual beli tanah. Bisnis ini saya pilih karena tanah adalah satu-satunya properti yang akan terus naik harganya, dan setiap orang pasti membutuhkan tanah untuk membangun istana mereka di kemudian hari. Mungkin kalian tertawa dengan cara kuno yang saya ambil, tapi percaya atau tidak, bisnis ini ampuh juga kok untuk ternak uang.

 

Permasalahan yang sering ada dalam jual beli tanah adalah, tanah yang saya miliki  ‘dimakan’ tanah tetangga. Kejadian semacam ini bukan hanya sekali dua kali saya alami, tapi sering. Hampir setiap tanah yang saya miliki selalu ‘dimakan’ tetangga. Walhasil tanah saya semakin sempit dong. Rugi saya.

 

Kesal dengan kejadian dholim yang sering saya hadapi, istri saya pun meminta saya untuk mengambil jalur hukum saja. Saya memang ‘pintar’ soal tanah, tapi saya tidak terlalu paham soal hukum. Bagaimana kalau malah saya yang dituntut balik? Bukannya mendapatkan tanah saya kembali atau mendapat ganti rugi, kalah dalam hukum malah bisa beresiko dituntut balik. Jadi saya takut memperkarakan orang yang ‘memakan’ tanah saya.

 

Untung temannya istri saya adalah teman sekolah kang Masrukhan, seorang konsultan spiritual di Kudus. Atas sarannya kami menemui kang Masrukhan di Kudus. Setelah menceritakan detil permasalahan saya, kang masrukhan menganjurkan Wesi Kuning sebagai sarana mendapatkan keadilan. Tempat praktik kang Masrukhan yang tidak seperti tempat praktik para ahli spiritual lainnya membuat saya ragu dengan kekuatan supranatural yang dimilikinya. Kendati demikian saya tetap saja mengikuti anjuran beliau.

 

Hal pertama yang saya lakukan setelah membawa pulang Wesi Kuning adalah saya mencoba memperkarakan pak Anton, pemilik rumah yang memakan tanah saya untuk dijadikan pagar samping rumahnya. Tidak tanggung-tanggung, setengah kali 8 meter tanah saya ‘dimakannya’.

 

Sidang perkara tanah ini pun berlangsung lima kali, setiap sidang berlangsung saya selalu diliputi rasa was-was. Saya takut Wesi Kuning tidak manjur, saya juga takut dituntut balik jika saya kalah. Alhamdulillah pada sidang kelima yang merupakan sidang pemutusan menyatakan saya lah yang berhak memiliki tanah tersebut. Akhirnya pak Anton pun membayar ganti rugi atas tanah saya yang ‘dimakannya’.

 

Oke, sejak saat itu saya jadi berani memperkarakan setiap orang yang berani medholimi saya. Ayo siapa lagi yang berani curang dengan saya? Saya pastikan akan menemui saya di meja hijau.

 

Ruslan, Mojokerto